Learning English atau Studying English

 Learning English atau Studying English

Oleh: Sri Mulyani (0903676)

UPI Kampus Tasikmalaya

Dewasa ini, mata pelajaran bahasa Inggris di SD, SMP, dan SMA yang semula hanya mata pelajaran mulok atau muatan lokal kini mulai menjadi mata pelajaran pokok atau inti. Buktinya saja dengan dijadikannya bahasa Inggris menjadi salah satu mata pelajran UN atau UAS BN. Hal ini tentu saja merupakan suatu kemajuan apabila dilihat dari segi standarisasi pendidikan. Yang mana dengan dijadikannya bahasa Inggris sebagai mata pelajaran pokok bahkan mata pelajaran yang menjadi standar evaluasi mengindikasikan bahwa standar pendidikan  pun meningkat.

Meningkat di sini dimaksudkan bahwa standar pendidikan di negara kita mulai melirik internasionalisasi. Karena seperti sudah kita ketahui bersama, bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang harus diikuasai untuk bisa memenangkan persaingan globalisasi. Selain itu, penguasaan bahasa Inggris juga menjadi syarat untuk mudah atau tidaknya seseorang mendapatkan pekerjaan. Orang menguasai bahasa Inggris akan mudah mendapatkan pekerjaan dibanding dengan yang tidak memiliki penguasaan bahasa Inggris.

Seiring meningkatnya kebutuhan untuk menguasai bahasa Inggris, tentu harus dibarengi juga dengan peningkatan sarana dan prasarana pembelajarannya. Baik itu peningkatan kualitas maupau peningkatan kuantitasnya.

Dalam pendidikan formal semisal sekolah, pengajar, lembaga belajar dan media pembelajaran tentu sudah diatur sedemikian rupa. Namun apakah pengaturan tersebut sudah tepat?

Berdasarkan pengalaman, pengajaran bahasa Inggris selama saya mengikuti atau menerima pelajaran tersebut masih belum tepat. Maksud tepat disini adalah benar metodenya, sesuai dengan tuntutan zaman, serta akurasi penyampaian dari guru ke siswa.

Kenapa saya bilang belum tepat?

Karena, pengajaran bahasa Ingggris yang saya terima dari mulai saya duduk di sekolah dasar hingga sekolah menengah atas hanyalah bersifat teoritik.Tidak bersifat practical. Jadi, pengajaran bahasa Innggris hanya ditujukan  agar siswa tahu. Walaupun memang dalam standar kompetensi dibarengi dengan tujuan agar siswa mampu, tapi pada kenyataannya siswa hanya dibekali dengan teori-teori dan minim praktek. Sehingga akan melahirkan siswa yang dalam teori mahir berbahasa Inggris tapi saat praktek, mereka tidak bisa apa-apa. Contohnya saja dalam grammar, siswa banyak dibekali dengan teori penggunaan grammar namun jarang sekali dipraktekkan dalam berkomumnikasi. Terkadang dalam berbicara tetap saja seingatnya. Tidak memperhatikan grammar.

Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan tuntutan  zaman yang bukan hanya mengharapkan kepandaian berteori tetapi juga kemahiran dalam mempraktekkannya di kehidupan sehari-hari. Ternyata ini menyangkut kepada metode pengajaran yang diberlakukan.

Selama ini, kita sering mengenal istilah learning english dan studying english.Keduanya memang memiliki makna yang sama, yaitu belajar. Namun, pada prakteknya, learning dan studying berbeda. Studying dalam proses pembelajarannya dibatasi, sedangkan learning tidak dibatasi oleh ruang, waktu juga pengajar atau gurunya. Learning bisa dilakukan kapan saja, dimana saja dan didapat dari siapa saja.

Sehingga, bila dilihat dari tuntutan zaman yang mengahruskan pemahaman bahsa  Inggris hingga ke prakteknya, learning english lebih tepat. Namun, tampaknya di negara kita  studying english yang lebih dominan. Karena selain faktor lingkungan yang tidak memungkinkan untuk membantu memahami bahasa Inggris hingga ke penerapanya dalam kehidupan sehari-hari juga faktor pengajar bahasa Inggris yang terkadang hanya memberikan teori-teori yang terpaku pada textbook dan tidak mencoba mempraktekkan teori-teori tersebut.

Hal ini terkadang menimbulkan kejenuhan pada siswa. Sehingga menyebabkan siswa hanya terfokus untuk  belajar bahasa Inggris bukan untuk menguasai bahasa Inggris.  Sering terdengar selentingan anak-anak sekolah yang mengucapkan bahwa sulitnya belajar vbahasa Inggris dan kerumitan belajar bahasa Inggris, sesungguhnya ucapan-ucapan itu yang menjadi sugesti bagi diri mereka. Sehingga menjadikan pelajaran yang sulit untuk dipahami dan dikuasai.

Oleh karena itu, diperlukan pula cara untuk mengobah pola pikir peserta didik, agar tidak merasa terbebani dengan pikiran bahwa bahasa Inggris itu sulit. Mungkin salah satu caranya denagn membuat peserta didik senang/menyenangi pelajaran bahasa Inggris. Bisa  dengan membuat murid senang terhadap gurunya ataupun dengan membuat metode-metode pembelajaran yang menarik.

Sehingga apabila ketertarikan itu telah ada, maka proses learning akan berlangsung deengan sendirinya. Karena sudah kita ketahui bahwa apabila kita sudah senang terhadap sesuatu, maka dimana pun, kapanpun, dan pada siapapun kita akan selalu ingin lebih mendalalmi dan berbagi tentang apa yang kita senangi itu. Sehingga terjadilah proses learning.

Apabila proses learning sudah bisa di;lakukan, maka pemahaman tentang bahasa Ingggris akan lebih luas. Bahkan bisa dengan sekaligus penerapanya di kehidupan sehari-hari. Sehingga pengajaran bahasa Ingggris ini bisa sesuai dengan tuntutan zaman.

 Jadi, pentingnya penguasaan bahasa Inggris bisa dibarengi dengan kualitas sarana dan prasarana pembelajaran. Sehingga internasionalisasi dan persiapan menghadapi tantangan zaman bisa diatasi dengan mudah. Maka, bersiaplah bagi bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang mampu menerima penghargaan atas prestasi-prestasinya dalam menghadapi era Globalisasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: