MOS Ajang Penyaluran Balas Dendam Siswa

Baru-baru ini banyak diberitakan di media massa maupun elektronik baik cetak maupun internet tentang korban kekerasan dalam MOS atau yang sering kita kenal Masa Orientasi Siswa. Sebenarnya, apa sih arti dari MOS itu sendiri? Apakah benar Masa Orientasi Siswa? Atau Masa Orientasi Suram? Masa Olok-olok Siswa? Atau mungkin Masa arOgansi Siswa?

Teringat tujuh tahun ke belakang dimana saya mengalami masa tersebut. Masa dimana saya melakukan hal-hal yang tidak masuk akal menurut saya. Masih selalu menjadi pertanyaan di benak saya setiap kali diadakan MOS, kenapa harus selalu menempelkan pita warna warni di rambu atau kerudung kita? Kenapa harus memakai kaos kaki yang berbeda warna satu sama lainnya? Kenapa tali sepatu kita harus diganti dengan tali rafia yang berbeda warna? Kenapa juga harus membawa benda-benda, barang, alat, atau bahan (saya bingung harus menyebutnya apa) yang menurut saya tidak mendukung dalam kegiatan MOS? Seperti halnya bola pingpong bervitamin C, tentara hijau 2015, cokelat balon di udara, dan lain-lain yang menjadi teka-teki bagi siswa. Kenapa tidak langsung disebutkan saja nama bendanya? Bahkan jika kita membawa benda yang salah, kita akan terkena sanksi atau mendapat hukuman seperti omelan dan olok-olok panitia atau hukuman yang tidak sesuai.

Sebelumnya saya pikir benda-benda itu untuk kita makan ketika istirahat, tapi ternyata bukan sama sekali. Benda-benda dengan nama aneh yang kita bawa akan dikumpulkan dan entah kemana perginya kita tidak tahu. Boro-boro ada waktu untuk makan, hanya untuk sekedar istirahatpun (selonjoran kaki misalnya) sangat haram untuk dilakukan. Jika ketahuan melakukannya, kita akan mendapatkan omelan dari seksi keamanan.

Meneliti dari masalah yang sedang berkembang, menurut saya, MOS adalah masa perkenalan siswa terhadap sekolah, dimana yang diperkenalkannya itu adalah objek, subjek, dan fasilitas sekolah itu sendiri. Dari sisi objek kita diperkenalkan pada bangunan sekolah, kelas, laboratorium, gedung olahraga, ruang kesehatan, dan lain-lain, baik itu diperkenalkan secara langsung maupun tidak langsung. Kemudian kita diperkenalkan pada mata pelajaran-mata pelajaran yang akan kita pelajari disana, diperkenalkan juga organisasi-organisasi yang langsung berada dibawah lindungan kepala sekolah seperti OSIS, PRAMUKA, PMR, PASKIBRA dan klub-klub minat dan bakat yang ingin kita ikuti sebagai kegiatan ekstrakurikuler.

Adapun dari sisi subjek kita akan diperkenalkan kepada  orang-orang yang berpengaruh  atas sekolah itu, seperti kepala sekolah, guru kelas, guru mata pelajaran, para staf akademika, bahkan sampai satpam dan office boy. Selain itu kita akan mengetahui siapa the king of organizations dan ketua klub ektrakurikuler yang sangat populer di masa kejayaannya.

Yang terakhir adalah fasilitas, seperti yang kita tahu fasilitas adalah sarana yang mendukung untuk kegiatan belajar kita nantinya.

Melihat tujuannya, kegiatan MOS sangat membantu untuk memperkenalkan siswa pada sekolah barunya, namun  sepertinya MOS saat ini tidak cocok digunakan di kalangan SMP (Sekolah Menengah Pertama), karena anak-anak atau remaja yang sedang berkembang pada zaman ini terkesan manja. Kenapa saya bisa mengatakan manja karena remaja zaman sekarang diberi keleluasaan hak bersuara di berbagai media, terutama media sosial.  Dan hal tersebut menjadi tempat pengaduan remaja sekarang.

MOS akan terus memakan korban jika terus dilakukan seperti sekarang ini, menggunakan asas senioritas. Apalagi dengan kepanitiaan yang tidak diarahkan langsung oleh guru bahkan kepala sekolah, atau hanya mengandalkan kehendak kakak kelas yang pernah mengalami MOS sebelumnya.

Dalam kegiatan MOS seharusnya diikutsertakan pihak-pihak di bidangnya, seperti dinas pendidikan setempat, perangkat sekolah setempat, komite sekolah, orang tua, bahkan masyarakat.  Karena pada dasarnya MOS adalah masa perkenalan siswa baru kepada sekolah barunya, sedangkan sekolah itu berada di lingkungan yang sangat luas.

Melihat keadaan ini, saya selaku insan pelaku di bidang pendidikan turut khawatir dan ingin sedikit memberi saran kepada pemerintah karena ditakutkan akan ada lagi korban MOS lainnya.

Jika terjadi lagi korban MOS, baik itu tindakan kekerasan atau kelalaian, pemerintah dalam hal ini menteri pendidikan dan kebudayaan sesegera mungkin menindaklanjuti sekolah yang memakan korban MOS itu. Seperti menindaklanjuti panitia yang di dalamnya mungkin terlibat siswa, guru, kepala sekolah, bahkan dinas pendidikan di lingkungan sekolah yang bersangkutan. Untuk sanksi berat, pemerintah juga dapat mengurangi, membekukan, bahkan mencabut status akreditasi sekolah tersebut jika terjadi hal yang fatal.

Selain guru, saya juga salah seorang pemerhati masyarakat. Saya pikir, masalah ini harus secepatnya diselesaikan agar tidak ada korban-korban MOS lainnya.

About nayyanrises

Buka dunia dengan berpikir positif | PROUD to be SINGLE | cause I'm SINGLE I'm VERY HAPPY |

Posted on 5 Agustus 2015, in Tak terkategori and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: