Sepenggal Kisah LDR

Aku kembali membuka facebook yang telah lama aku abaikan. Sejak putus dari pacarku yang kesekian tujuh bulan lalu. Beberapa pemberitahuan baru, permintaan pertemanan baru, dan pesan baru muncul berderet. Dengan lemas aku membuka satu persatu pesan baru berharap ada kata permintaan maaf dari “mantanku” dan permintaan untukku kembali padanya. Namun tidak ada satupun namanya muncul dari list itu. Dan aku sadar “Okesip aku jomblo sekarang”. (kenapa baru sadar setelah tujuh bulan putus darinya? Kemarin kemana aja? Helooooow???)

Mataku kemudian terbelalak tiba-tiba menemukan sebuah nama “SiKiSa” yang aku pikir “mantanku” mengirim pesan. Dan pesan itu berisi “kamu pangling sekarang, kurusan, sehat kan?” aku lihat tanggal pengirimannya ternyata lima bulan lalu. Tak lama aku balas dengan menanyakan siapakah gerangan dirinya. Aku meyakinkan diri kalau itu adalah mantanku yang aku tunggu kabarnya. Lima detik tidak ada balasan, satu jam belum ada balasan juga, sambil menunggu balasannya aku iseng membuka foto-fotonya namun sayang semuanya di privat. Setelah itu aku lupa berapa kali aku mengecek inbox facebookku itu sehingga aku tertidur nyenyak. Seminggu tidak ada balasan juga. Dan aku berpikir untuk menyudahi rasa penasaran ini. Namun keesokan hari nya dia “SiKiSa” membalas “selain kurusan kamu juga sombong sekarang”. Sengaja aku abaikan dulu dan membuka kembali profilnya, entah kenapa aku mengklik albumnya beruntung albumnya sudah tidak diprivat lagi dan ternyata dia adalah teman SMPku. Aku ingat lima bulan lalu itu adalah hari dimana aku berkumpul reuni dengan teman-teman semasa SMPku. Refleks kemudian aku minta maaf lupa tentang dirinya, namanya, dan hampir juga wajahnya. Maklum saja sudah hampir lima tahun tidak bertemu. Sekarang dia kuliah di salah satu universitas di Bandung dan aku kuliah di kampung halaman sendiri. Percakapan itu terus berlanjut sampai hari-hari berikutnya, baik chatting, YM, SMS, bahkan telepon. Mungkin karena aku kesepian, aku merasa nyaman berchatting ria dengannya.

Setelah tiga bulan hanya berkomunikasi di dunia maya, akhirnya dia pulang ke kampung halamannya yang notabene satu kota denganku. Semenjak lulus SMP- lima tahun lalu-itu adalah hari pertama aku melihatnya lagi dari ujung kaki sampai ujung rambut. Aku tidak mengelak ketika dia melihatku waktu acara reuni SMP-delapan bulan lalu-namun sayang aku tidak melihanya (mungkin lebih tepatnya adalah tidak memperhatikannya). Namun itu tidak masalah bagi kami, yang jelas sekarang aku of course tidak karuan. Hari pertama bertemu kembali dan semuanya terasa AWKWARD. Kami lebih banyak diam, bertentangan sekali saat bercengkrama di dunia maya. Kami hanya saling pandang dan saling membalas senyuman. Setelah melewati kekonyolan itu kami saling tertawa mengingat masa-masa SMP yang sangat mengharukan. Hari itu kami lewatkan untuk kuliner, sekedar foto-foto, dan bercerita kesana kemari. Selagi dia disini adalah hari-hari yang tidak boleh terlewatkan begitu saja. Namun rencana tinggal rencana, hari-hari terakhir, dia mulai mengingkari janjinya untuk bertemu dengan alasan banyak hal, dan dia pun pamit lewat SMS untuk kembali ke Bandung.

Satu bulan tidak ada komunikasi diantara kami, kemudian dia datang lagi memberi kabar di inbox, namun seolah tidak ada masalah dan tidak sedikitpun rasa bersalah atas semua yang terjadi belakangan ini. Sejenak aku berpikir “memang tidak ada hubungan apa-apa kenapa harus dipermasalahkan?” aku hanya kegeeran-mungkin dia hanya menganggap aku adalah teman biasa dan bukan teman spesial bukan juga pacar-

Pertemuan berikutnya terjadi tanggal 01 September 2010 ketika teman SMP kami mengadakan acara kumpul bareng dirumahnya. Aku tidak tahu dan tidak menyangka dia akan datang, surprise dia datang dan mengungkapkan semua perasaannya terhadapku selama ini. Dan hari itupun dia menjelaskan alasannya mengingkari janjinya untuk tidak melewatkan hari-hari pada pertemuan pertama waktu itu. Waktu itu adalah hari-hari terberat baginya karena baru putus dari pacarnya, dia memutuskan hubungan dengan pacarnya itu karena alasan dia dipertemuakan lagi denganku, dia mengungkapkan bahwa dirinya memang telah memendam perasaannya terhadapku dari zaman SMP dulu. Sengaja aku minta waktu untuk memikirkannya. Ini bukan masalah menerima atau menolak. Yang aku pikirkan adalah persahabatan kami nantinya. Memang aku ingin menjadi yang spesial untuknya tapi bukan pacar. Aku banyak bertanya pada teman-temanku yang juga teman-temannya. Setelah aku berpikir lama dan mempertimbangkan ini itu akhirnya seminggu kemudian aku menerima dia dengan catatan jangan melupakan persahabatan yang telah lama kita bangun beberapa tahun ini.

Aku ingat betul tanggal jadian kami 080910. Kami tidak merencanakannya. Karena yang direncanakan-dia-adalah tanggal 010910. Kami menganggap itu hanya kebetulan, tapi semuanya telah direncakan oleh Alloh SWT. Aku tidak tahu.

Karena kami kuliah di tempat yang berbeda, memang jarak tidak terlalu jauh, mungkin hanya membutuhkan waktu 3-4 jam untuk sampai ke tempatnya, tapi aku ingin menjalani hubungan ini dengan pemikiran dewasa. Aku tidak ingin mengganggu waktu kuliahnya begitipun dengannya, dia juga tidak ingin mengganggu waktu kuliahku. Kami sepakat untuk menjalani LDR-long distance relationship-waktu itu. Kami sepakat untuk saling bertemu tiga bulan sekali, itupun tidak sampai sehari, mungkin hanya beberapa jam saja. Namun memang begitu seharusnya toh kami tidak pernah putus komunikasi, kami saling percaya satu sama lain, tidak hanya itu kami pun punya SPY masing-masing. Karena banyak temanku yang kuliah di universitas yang sama dengannya, walaupun temannya tidak ada yang kuliah ditempatku namun ada beberapa teman kami yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Mungkin karena itu kami tetap saling menjaga kepercayaan dan tetap saling berkomunikasi.

Tiga bulan pertama waktu itu bulan desember, dia pulang untuk menepati kesepakatan kami. Kami sama-sama saling merindukan. Waktu itu dia pulang hari sabtu dan kami bertemu hari minggu. Tidak kami sia-siakan, hari minggu itu kami gunakan waktu untuk saling berbagi cerita, nonton, makan. Memang hal sepele namun bagi kami itu sangat berkesan. Jujur saja sebelumnya aku belum pernah menjalani LDR seperti ini. Sepulangnya ke Bandung seperti biasa kami berkomunikasi hanya lewat SMS, telepon dan facebook hanya kami gunakan untuk bercanda dan mengomentari kegiatan yang kami share disana.

Akhir tahun menuju ke awal tahun itu adalah waktu-waktu yang sangat menyedihkan bagi kami, khususnya bagiku. Tidak tahu kenapa aku merasa kesepian, semua orang temanku bercengkarama dengan pasangannya masing-masing, baik itu face to face ataupun melalui telepon ada yang pergi bersama pasangannya untuk sekedar merayakan tahun baru di keramaian kota. Namun tidak untukku. Tidak ada SMS, tidak ada telepon, apalagi pertemuan. Sengaja aku SMSnya lebih dulu, namun beberapa menit, beberapa jam kemudian tidak ada balasan. Pukul sebelas malam aku memutuskan untuk tidur. Tidak berapa lama sebelum tidurku pulas remang-remang aku mendengar bunyi hp berdering. Aku mengangkatnya lemas dan PREEEEETTTT PREEEEETTT PREET aku terbangun seketika dan inilah ucapan yang paling membahagiakan itu“happy new year sayang semoga tahun ini menjadi tahun yang lebih mendewasakan kita”

Ada yang harus dibayar dalam detik-detik penantian tahun baru itu, semuanya terbayar lunas plus dengan bonusnya. Rasa kantukku seketika hilang. Ada kemajuan dalam hubungan kami, kami selalu merasa dekat karena kami menggunakan videocall. Lucunya saat kami Vcall, SMS dan komentar di facebook tetap lanjut, rasanya kami tidak bosan saling mengoceh disemua dunia. Malam itu percakapan kami berlanjut sampai pagi, karena tidak ada yang mau mengalah menutup telepon. Tidak apa pulsa habis dan uang limit, semuanya terbayarkan dengan kebahagiaan di malam tahun baru.

Tiga bulan kedua dia pulang dan menepati janjinya. Ada beberapa kegiatan yang telah kami agendakan karena pada tanggal 17 maret ini adalah hari ulang tahunnya. Seperti seorang kekasih kebanyakan aku memberinya kue ulang tahun dan sepasang sepatu sebagai kadonya, karena aku ingin hubungan ini seperti kisah sepasang sepatu. Tahukah kalian kenapa sepatu dicipatakan sepasang? Itu karena meskipun mereka berdua jalan tidak pernah berdampingan, namun tujuan mereka sama. Dan kalau salah satu di antara mereka hilang, maka yang satunya lagi tidak akan ada artinya. Karena mereka diciptakan untuk selalu bersama-sama. Aku bukan orang yang romantis, bahkan aku adalah orang yang cenderung cuek namun dia tidak pernah merasa bosan padaku-mungkin belum-.

Tiga bulan ketiga, seperti halnya tiga bulan kedua, dia berencana pulang bertepatan dengan hari ulang tahunku. Kebetulan ulang tahunku berselang tiga bulan dari hari ulang tahunnya. Ya 18 Juni ini adalah hari dimana 21 tahun yang lalu aku dilahirkan. Memang tidak ada surprise karena semuanya sudah direncanakan, namun entah mengapa aku sangat bahagia merayakan ulang tahun tepat disampingnya. Dia menyanyi kan sebuah lagu sebagai kado ulang tahun untukku. Lagu Taylor Swift ft Boys Like Girls “Two is Better than One” adalah lagu kenangan kami. Namun kado itu tidak sampai disitu, dia memberiku kacamata plus buku yang harus-kami-baca bersama-sama. Kondisi kami sama, kami adalah mahasiswa hampir tingkat akhir di universitas. Seolah diingatkan, dia memberiku novel berjudu “SKRIPSHIIT!!!” aku hanya menggelengkan kepala dan tertawa, walaupun direncanakan namun bagiku semuanya adalah kejutan.

Beberapa bulan berikutnya semuanya aman dan masih terkendali. Kami melewatkan puasa ditempat yang berbeda, namun kami saling mengingatkan sahur dan buka puasa. Kami selalu ingin saling mendahului mengingatkan bahkan dari adzan magrib sekalipun. Dan tibalah pada saat dimana semua orang wajib saling maaf memaafkan. Seperti halnya manusia biasa kami mempunyai kesalahan dan kekhilafan ketika tidak bersama baik sadar maupun tidak sadar. Hari itu adalah hari dimana para orang tua kami saling bersalam-salam via telepon, walaupun belum secara langsung tapi sepertinya mereka punya hal menarik untuk dibicarakan ya tidak lain dan tidak bukan adalah KAMI.

Itulah hari-hariku dengannya bersama LDR ini. Tepat setahun usia hubungan kami 080911 seperti biasa kami hanya melewatkannya di udara. Ada sedikit kecewa karena beberapa bulan kedepan dia akan disibukkan dengan praktek lapangannya, teringat kembali pada niat awal bahwa aku tidak akan mengganggu program kuliahnya, apapun itu. Aku hanya bisa mensuport lewat sms-sms yang jarang dibalasnya, dan lewat doa untuk kelancaran prakteknya. Saat itu semuanya hampir berubah, sms jarang dibalasnya, telepon jarang diangkatnya. Dan kalaupun diangkat, suaranya selalu terdengar lirih, tidak jarang aku menyemangatinya namun semuanya selalu berakhir dengan kesalahpahaman. Hari-hari berikutnya aku biarkan semuanya bebas, namun aku tidak lupa menyemangatinya lewat sms-sms yang aku kirimkan. Beberapa minggu berlalu dan dia masih disibukkan dengan tugas kuliahnya. Aku mencoba mengerti dan untungnya aku cukup sabar. Mungkin itulah buah yang aku petik dari kecuekanku, aku tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal sepele selama aku dan dia tetap saling percaya. Mugkin saat ini komunikasi tidak ada, tapi selama kepercayaan itu ada semua akan baik-baik saja.

Tahun baru 2012 tidak seperti tahun baru kemarin tidak ada telepon, tidak ada kejutan, tidak terompet tidak juga ucapan harapan. Hanya sms biasa mengingatkan tahun baru dan istirahat.

Enam bulan dari pertemuan kami yang terakhir, kami belum juga bertemu sampai bulan maret ini. Bulan ini adalah bulan yang seharusnya kami jadwalkan untuk bertemu karena bulan ini adalah bulan yang sangat bersejarah baginya. Dan akhirnya kami tidak bertemu sama sekali, hanya untaian doa yang aku sampaikan melalui SMS dan nyanyian serta ungkapan ceria ditelepon.

Beberapa hari berlalu dan semua sama saja. Aku ingin berbagi dengan temanku yang notabene adalah temannya juga. Dan barulah aku mengerti kenapa dia berubah, dia tidak suka sifat acuh tak acuhku, dia tidak suka sikap sabarku, dia tidak suka sikap mengalahnya aku. Dia ingin aku yang selalu mengutamakan dia, dia ingin aku yang pertama sms ataupun telepon, dia ingin aku mengganggunya walaupun dia kelelahan, dan dia ingin selalu ada aku untuknya walaupun tidak disampingnya. Aku mulai berpikir “apakah aku seacuh itu?” baginya iya, dan lagi-lagi karena sikap acuhku aku tidak menyadari itu.

Akupun mulai merubah sikapku. Aku mencoba untuk selalu mengutamakannya, aku mencoba untuk tidak bertindak flat, walaupun merasa janggal atas sikap sendiri tapi lama kelamaan hal itu menjadi biasa dan wajar. Dengan begitu kami adalah pasangan yang sama-sama tidak mau merasa kehilangan. Kami pun jadi intens bertemu dan mencoba hal-hal baru ketika bertemu. Kami sering jalan-jalan, kami travelling ke luar kota, dan selalu ada hal-hal menarik yang dilakukan.

Pertengahan mei tepat di usia 1,5 tahun hubungan kami, kami mengalami sebuah kecelakaan. Waktu itu adalah masa-masa sulit kami, kami terlalu bersemangat pada hubungan ini. Bulan itu kami kecelakaan dan membutuhkan banyak uang untuk pengobatanku, aku tidak memberitahu orang tuaku karena takut mereka khawatir. Aku melakukan operasi dengan semua biaya ditanggungnya, karena aku tidak ingat apa-apa. Untuk biaya rumah sakit dia menggadaikan motornya dan menjual gadget keluaran terbarunya, akhirnya aku bisa keluar dari rumah sakit dan aku mulai berobat jalan namun biaya pengobatan itu tidak murah akhirnya aku merelakan handphoneku untuk dijual juga. Saat itu kami berniat benar-benar ingin menjaga hubungan ini, kami terlalu banyak berkorban bahkan nyawa kamipun hampir terenggut sia-sia.

Beruntunglah dia termasuk mahasiswa berprestasi di kampusnya, beberapa kali dia mendapat beasiswa dari pemerintah dan kampus tempatnya kuliah. Satu persatu fasilitasnya kembali. Pertama dia menebus motornya. Kedua, sebagai hadiah ulang tahunku dia membelikan aku handphone dengan fitur dan aplikasi terbaru pada waktu itu. Dia selalu membuat aku terharu dan bahagia, dia selalu menomorsatukan aku, karena itu aku sangat mencintainya. Dia belum berniat membeli gadget karena yang penting adalah aku tetap bisa berkomunikasi dengannya.

Tidak lama kemudian aku mendapat hadiah dari kampus atas kemenangan lomba lariku, memang tidak banyak tapi cukuplah untuk nambah-nambah. Uang beasiswanya yang masih aku simpan di rekening tetap menjadi modal utama untuk membelikannya gadget terbaru itu.

Seperti halnya aku, dia sangat bahagia karena semua fasilitas yang dulu sempat kami miliki akhirnya dapat kembali kami miliki. Motor, gadget, handphone, terutama nyawa kami. Kami harus selalu bersyukur kepada Maha Pemilik segalanya.

Bulan Juni, kali ini aku yang disibukkan dengan kegiatan kampus. Ya KKN-kuliah kerja nyata-membuatku acuh lagi pada kekasihku itu. Aku terlalu sibuk pada kegiatan ini, karena aku adalah orang yang kritis terhadap suatu program. Kadang aku lupa SMS, aku membaca SMS darinya tapi lupa membalasnya, pulsa habis adalah alibi yang sangat jitu saat itu. Bahkan mungkin yang lebih menyakitkan adalah ketika kita bisa mengganti status di BBM tapi chatnya hanya diread tanpa ingin membalasnya nah loh sekarang alibinya apa? Tiba-tiba aku menjadi orang yang mau menang sendiri, tapi dia memahamiku. Yang menjadi pikiranku sekarang adalah “apa aku harus merasa beruntung ataukah merasa bersalah?”

Sebagai bahan pertimbangan atas kepercayaannya padaku, aku membebaskan dia datang ke lokasi tempatku melakukan kegiaiatan KKN kapan saja. Dan akhirnya dia rutin datang ke lokasi di hari sabtu atau minggu. Lokasi ku berdekatan dengan kawasan wisata pantai dan bendungan sungai. Kamipun menghabiskan waktu di tempat wisata itu. Tiba-tiba dia ingin pergi ke pantai, beruntungnya aku mendapat jatah libur. Bergegas, hari minggu pagi itu kami pergi ke pantai. Beberapa jam kami habiskan disana, mulai dari berenang, menyusuri hutan lindung dan gua-gua, dan berlari saling berkejar-kejaran dengan deburan ombak. Minggu sore kami pulang membawa segudang cerita dan semangkuk oleh-oleh udang untuk sekedar berbagi bersama teman-teman di lokasi KKN.

Setelah kegiatan kampus berakhir aku kembali menjadi Zema yang selalu dia inginkannya. Namun mungkin aku terlalu berlebihan, aku berubah menjadi orang yang protektif bahkan posesif. Aku sering mengganggunya ketika dia sibuk di kegiatan kampus, aku yang selalu ingin dimanja dan dinomorsatukannya. Aku menjadi orang yang tidak sabar bahkan selalu mencurigainya jika dia telat balas SMS atau telat mengangkat telepon dariku. Dan beberapa hal lain yang menurutnya berlebihan. Karena tindakanku itu kami jadi sering salah paham dan kamipun bertengkar. Bahkan kami menjadi pasangan yang paling egois dan kekanak-kanakan menurut teman-teman kami.

Tapi tidak ada kata “putus” yang terucap dalam pertengkaran itu, yang terjadi adalah pengertianku yang semakin besar. Aku mengerti, apa yang selama ini aku lakukan salah. Mengekangnya dan memenjarakannya adalah hal terbodoh yang pernah aku lakukan. Bulan puasa menjelang, kamipun tidak seharmonis dulu. Padahal tidak ada kegiatan kampus yang kami kerjakan saat itu, perkuliahan pun sedang masa libur semester genap. Kami lebih sering berada di rumah masing-masing meskipun kami tinggal di satu kota yang sama. Kami memberi kabar seadanya, kami bertemu hanya ketika teman-teman kami mengajak untuk berkumpul dan buka puasa bersama, di waktu itupun hanya obrolan singkat tidak penting yang terlontar dari mulut kami. Aku tidak bisa berbicara banyak, karena sampai saat itu aku belum mengerti apa yang diinginkannya. Bahkan di facebook tempat pertama kali kami kembali bertemupun tidak ada atmosfer untuk saling memulai. Yang aku lihat disana hanya komentar-komentar-spam-bersama teman-temannya lebih parah dengan teman perempuan di kampusnya yang selama hampir 2 tahun ini tidak dilakukannya. Dari situ lah aku mengerti kami bukan lagi kami. Aku bukan aku, dia bukan dia, aku bukan dia, dan dia bukan aku. Kami tidak saling mengenal satu sama lain.

Lebaran tiba, hari itu hari minggu tanggal 19 agustus 2012, kami tidak ada inisiatif untuk saling minta maaf dan memaafkan. Sampai akhirnya aku disadarkan oleh ibuku untuk meminta maaf pertama kali, toh memang tidak ada salahnya, malah menjadi pahala yang utama di hari yang fitri ini. Aku tidak yakin dia ada di rumah saat lebaran seperti ini, aku membuat rencana B berjaga-jaga jika tidak sampai bertemu dengannya hari itu. Aku menulis surat, panjang lebar aku jelaskan, entahlah apa aku bisa membuatnya mengerti atau hanya akan membuatnya bingung dan memperuncing masalah. Aku hanya menuruti kata hatiku.

Sampai di rumahnya aku bertemu umi, ibunya. Kami sempat mengobrol banyak, aku mencoba fokus pada dua tujuanku: untuk bertemu dia dan meminta maaf. Namun yang ditunggu tidak juga datang. Aku pasrah dan pamit pulang, aku sempat menitikan air mata dihadapan umi, dan umi memelukku, aku merasa dikuatkan dan tegar kembali. Terima kasih umi, hanya itu yang aku ucapkan pada umi terakhir kali.

Hari itu juga aku titipkan suratku pada sahabatku yang juga sahabat terdekatnya. “Selama hampir dua tahun ini adalah kenangan yang tak bisa aku lupakan sampai kapanpun” ucapku sambil tersenyum seolah aku mengikhlaskan semuanya…

About nayyanrises

Buka dunia dengan berpikir positif | PROUD to be SINGLE | cause I'm SINGLE I'm VERY HAPPY |

Posted on 13 Desember 2014, in Cerpen and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: