Bagian 1****

Setelah mengantar Vania pulang, Rasya langsung masuk kamar. Di dalam kamarnya Rasya terus berpikir, rasya bingung mengapa sikap Denis selalu kasar terhadapnya (selalu jahil sih kalau boleh dibilang). Padahal Rasya tidak pernah bikin salah padanya. Apalagi Denis kelas tiga, mana mau Rasya berurusan dengan kakak kelas. Kecuali kalau kakak kelasnya yang duluan mulai.

Menurut Rasya sendiri, Denis orangnya misterius, susah ditebak. Emang sih cakep tapi ngeselin, belagu.

Dia ingat, dulu pas masuk SMU Bina Bangsa dan saat itu hanya Vania lah satu-satunya teman Rasya yang masuk ke sekolah yang sama, SMU Bina Bangsa. Denis pun selalu mencuri-curi pandang ke arahnya. Merasa diperhatikan Rasya pun melotot ke arah Denis. Mungkin saat itu, Rasya pertama kali melihat Denis tersenyum padanya.

Kalau di flash back, betapa banyak kejadian aneh bersama Denis yang suka ngeselin tapi kadang ada juga yang membuatnya senyum-senyum sendiri kayak orang gila baru.

Rasya tersenyum sendiri diatas kasur empuknya, ada rasa sedikit bahagia di lubuk hatinya. Tiba-tiba Rasya tersadar dari lamunan panjangnya. Rasya masih memakai baju seragam sekolahnya. Ingat itu Rasya langsung mandi dan mengganti bajunya. Jam menunjukkan pukul enam belas tigapuluh delapan waktu Indonesia barat. Pekerjaan rumah tanggapun sudah selesai dikerjakan sedari tadi.

Rasya sedang menonton televisi di ruang keluarga. Menunggu Bi Yati menyiapkan makan malamnya. Sayup-sayup terdengar percakapan Bi Yati dengan Mang Maman suaminya. Sesekali mereka tertawa terbahak dan cekikikan takut majikannya marah karena terganggu dengan tawanya yang keras.

Meskipun Bi Yati dan suaminya sudah lama tinggal di Jakarta, namun logat sundanya kental banget dan lucu didengarkan. Kadang-kadang Rasya pun tertular logat sundanya Bi Yati.

“Bi, udah hampir tiga bulan bibi nggak pulang kampung, apa bibi nggak kangen sama Rully?” Tanya Vania pada Bi Yati saat berkumpul di ruang makan.

“Yah si Eneng, kangen mah kangen tapi harus bagaimana lagi, emang dan bibi harus mencari uang untuk biaya sekolah Rully di kampung”

“Oh gitu, kalau liburan sekolah ajak Rully lagi kesini, biar rame”

“Itu mah pasti neng, biar Rully gaul kayak neng Rasya” ungkap Bi Yati sambil melirik suaminya, yang kemudian tertawa terkekeh-kekeh.

Rasya jadi berpikir, mungkin sama halnya dengan Bi Yati dan Mang Maman, orang tuanya pun bekerja mencari nafkah untuk mencukupi keluarga terutama dirinya yang masih bejiwa muda yang ingin meraih cita-citanya yang tinggi setinggi langit.

Rasya menyalakan televisi yang ada di kamarnya. Ditemani Chibby kucing semi persia kesayangannya. Kucing itu adalah hadiah dari Ervan, sepupunya, tiga tahun yang lalu, tepat ketika Rasya berulang tahun yang ke empat belas.

Waktu kian larut tapi tetap saja dalam pikirannya terbayang Denis dengan sikapnya itu. Lama-lama Rasya dongkol juga mikirin si cowok resek yag bener-bener gak penting. Rasya menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Dan kemudian terlelap dalam mimpi indahnya.

****Bagian 1 Tamat

Posted on 27 Februari 2013, in Novel and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: