Bagian 1 **

Motor Rasya menyusuri jalanan kota Jakarta, kota yang sudah tiga belas kali berganti nama itu. Dan melesat di tengah arus kemacetan jalan. Rasya berhenti di depan gerbang sekolah SMU Bina Bangsa.

WELCOME TO SCHOOL BINA BANGSA  Jl. RE Martadinata No 11 Jakarta Timur.

Rasya memarkir motor mathicnya di tempat biasa bersebelahan dengan motor maticnya Bono teman sekelas Rasya.

Rasya berjalan perlahan menuju kelasnya, santai. Di koridor Rasya mendengar suara seseorang memanggilnya.

“Sya, lo udah ngerjain tugas kimia belom?” Tanya seorang cewek sambil terengah-engah.

“Santai kali jeng! Napasnya diatur, kaya dikejar kuda aja”

“Emang ada tugas apaan gitu?” Rasya balik tanya.

“Eh malah balik nanya ni anak, tugas kimia halaman 86” Jawab cewek itu panik, sembari memperlihatkan lipatan pada buku kimia sebagai ciri ada pe-er untuknya.

Gimana nggak panik, pelajarannya pertama. Belum lagi gurunya yang berwajah pelahap murid-murid kurang disiplin.

“Yuk ah! Ntaran aja di kelas ngerjainnya, masa disini sih Van, ntar ketauan nyonteknya dong!” Rasya menarik tangannya cepat.

Cewek yang ternyata bernama Vania itu melihat sahabatnya dengan bingung.

Di belokan menuju kelasnya, Rasya berpapasan dengan Denis-kakak kelas resek-menurut Rasya. Semenjak MOS sampe sekarang, gak tau kenapa Denis seolah benci pada Rasya. Begitu juga Rasya, emang dasarnya udah tau tuh cowok resek, males aja ngeladeninnya.

Seperti biasa kalo mereka papasan, cuman matanya aja yang berbincang saling mengejek mulut mereka tertutup rapat. Vania Sahabat Rasya yang udah tau perdebatan sepasang mata mereka cepat-cepat menarik tangan Rasya. Jelas aja Denis merasa menang dan tersenyum tipis dibelakangnya. Kemudian Denis ngeloyor pergi gitu aja.

Nyampe di kelas Rasya langsung menuju bangkunya, duduk.

“Udah lah Sya! Cowok kaya gitu jangan di urusin. Sekarang mana tugas kimia lo? Gue nyontek dikit” omong Vania sambil mengikuti Rasya duduk.

“Ngapain gue ngurusin dia, emang gue emaknya? Huhhh enak aja” sahut Rasya mencak-mencak.

“Oh iya tugas kimia ya? ambil aja di tas!” lanjutnya.

Nggak lama bel berbunyi. Jam pelajaran pertama pun dimulai. Terlihat Vania kelepekan banget tahu tugasnya belum kelar. Padahal tugas itu diberikan Bu Zora sudah dua minggu yang lalu.

Pelajaran Bu Zora, guru kimia itu diacuhkannya. Rasya yang dari tadi merhatiin tuh guru malah ketawa-ketiwi sendiri. Nggak tahu kenapa.

Dua mata pelajaran hari ini ditempuh Rasya dan kawan-kawan di sekolah. Dan waktunya istirahat. Siswa dan siswi pun keluar menuju tempat favorit masing-masing. Didalam kelas 2-1 IPA hanya ada Rasya dan Vania yang udah sahabatan dari Es-Em-Pe, terpekur tak mengindahkan bel yang berbunyi dari tadi.

“BTW, kita kemana nih?” Tanya Vania.

“Tau ah, gue gak mood kemana-mana” jawab Rasya dengan wajah cemberut.

“Ke kantin yuk Sya! Pasti yang laen dah pada nunggu” ajak Vania semangat. Memang di kantinlah tempat favorit mereka setelah atap gedung sekolah. Selain Vania, masih banyak teman-teman Rasya, tapi mereka beda kelas. Ajakan Vania disambut Rasya hangat meski lagi gak mood, soalnya mereka menjunjung tinggi asas-asas persahabatan (ciee… prikitiwwwts).

Mereka berdua berjalan melewati koridor di tengah jalan Rasya tabrakan sama Denis. Brukkk…!!! Awww…!!!

“Heh kalo jalan tuh pake mata. Punya mata gak sih lo?” cetus Rasya nyolot hebat, emang dasar lagi gak mood kali. Hp ditangannya jatuh dan teronggok di bawah kaki Denis.

“Dari zaman nenek moyang di belahan dunia pun kalo jalan tuh pake kaki, mana bisa jalan pake mata” ungkap Denis santai. Denis yang belum nyadar Hp Rasya jatuh tepat di bawahnya terus tertawa bersama teman se-gengnya.

“Maaf ya Kak, asal kakak tau saja, kaki juga punya mata!” tukas Vania membela sahabatnya, Rasya.

“Masa sih???” Ledek Tito teman se-geng Denis di sampingnya.

“Coba deh kakak semua angkat sedikit celana seragamnya ke atas” Tanpa sadar semua orang yang berada disana mengangkat celana dan melihat kebawah.

“Nah… tuh ada mata kaki” ujar Vania berjongkok sambil menunjuk ke arah mata kaki Tito. Jelas saja semua orang yang menyaksikan perdebatan soal mata dan kaki tertawa terpingkal-pingkal atas ulah Vania saat itu.

Tanpa mempedulikan Hpnya yang jatuh, segera Rasya menarik tangan Vania yang sedang asyik menertawakan Denis and the gank dan menyeretnya pergi dari sana.

“Hai guys! Sori rada telat nih, coz ada pertarungan heboh tadi di koridor” cerita Vania yang masih asyik tertawa pada dua sahabatnya yang telah menunggu lama di kantin; Mora, Afny.

“Emang ada apaan Sya?” tanya Mora penasaran.

“Bukan apa-apa kok, tadi Cuma tabrakan sama Denis Hp gue jat… toh…” ungkap Rasya yang baru tersadar kalau Hpnya tertinggal di TKP.

“Hp gue ketinggalan nih Van” lanjutnya dengan wajah menyesalkan kejadian itu.

“Masa sih? Di saku rok lo kali?” Omong Vania dengan ritme suara polos. Kedua sahabat lainnya mencari di kolong meja kantin.

“Tadi Hp gue pegang, pas tabrakan itu Hp gue jatoh, kalian tunggu disini. Gue ambil dulu Hp di sana.” Jelas Rasya terburu-buru.

Di koridor tempat tabrakannya dengan Denis, Rasya mencari kesana kemari Hp kesayangannya. Walaupun Hpnya jadul abis tapi buat Rasya Hp itu adalah jimatnya. Bukan Rasya tidak mampu membel,i tapi Hp itu adalah Hp pemberian ayahnya ketika pertama kali masuk SMU Bina Bangsa dan mengizinkannya untuk tetap tinggal di Indonesia.

Bel sekolah SMU Baina Bangsa tanda waktu istirahat habis telah berbunyi lima menit yang lalu. Rasya belum juga beranjak dari tempat pencariannya. Saking asyiknya mencari Hp jadul, ia bahkan tidak menyadari bahwa ada seorang cewek yang sejak tadi berteriak-teriak memanggil namanya.

“Rasyaaaa! Lo gila kali ya! Bel dari tadi bunyi lo masih nyari Hp jadul itu?” teriak Vania sambil hendak memukul Rasya gemas.

“Besok gue beliin deh Hp persis kaya Hp lo yang jadul itu khusus buat lo” tukasnya.

“Elo beliin Hp terbaru satu panci juga gue gak bakalan terima”

“Satu panci? emangnya sop buntut? Tapi kenapa lo gak bakal terima Sya?”

“Iyalah, gue tau elo pasti gak ikhlas beliin Hp terbaru satu panci buat gue, apalagi lengkap sama fitur- fitur aplikasinya. Ha ha ha ha…”

Vania merengut mendengarnya. “Ah elo sok tau, mana ada ngasih buat temen sendiri gak ikhlas?”

“Udah ah yuk masuk, gue pengen cepet pulang, pengen ke JEC mumpung ada yang ikhlas beliin Hp terbaru satu panci buat gue” Rasya tersenyum jahil.

“Rasyaaa! Lo jahat banget sih, ntar gue makan apa di kantin kalo harus beliin lo Hp terbaru satu panci?” Vania teriak-teriak panik.

Rasya Malah sibuk cekikikan melihat sahabatnya berhitung dengan jari.

Di sudut lapangan basket SMU Bina Bangsa, terlihat Denis terus memperhatikannya. Tangannya memegangi Hp rusak milik Rasya.

** Bersambung

Posted on 21 Oktober 2012, in Novel and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: