Bagian 1 *

Malam kian pekat, Rasya begitu nama panggilan gadis cantik itu belum juga bisa memejamkan kedua bola matanya yang indah. Sudah lama Rasya tidak bertemu dengan kedua orang yang paling dicintainya itu. Gimana enggak kangen sudah hampir satu tahun ini orang tua Rasya belum pulang dari tempat bekerjanya, paling kalo pulang juga Cuma dua sampai tiga hari paling lama. Orang tuanya bekerja dan tinggal di luar Negeri selama dua tahun terakhir. Ayahnya sebagai perintis perusahaan besar yang sedang berkembang di Negari Paman Sam selalu menempatkan dirinya sebagai kepala keluarga, dan  ibunya manemani sang ayah juga sebagai atase pembantu kenegaraan disana.

Rasya berjalan menuju pintu, kemudian keluar dan menuruni tangga, diraiihnya gagang telepon di ruang tengah dan menekan tuts demi tuts angka telepon. Tersambung. Terdengar suara sahutan dari seberang.

“Halo!”

“Mah, ini Rasya, kapan pulang?” ujar Rasya memelas.

“sayang maaf ya, mama belum ngabarin kamu. Disini banyak pekerjaan yang harus diselesaikan…”

“Jadi kapan pulang?”

“Mmmm,,, mungkin dua atau tiga bulan lagi mama pulang”. Jawab Mamanya parau.

“Rasya kangen sama mama, sama papa juga”

“Mama juga, udah ya sayang sekarang sudah malam, besok harus sekolah kan?jangan sampai anak Mama bangun kesiangan dan terlambat ke sekolah”

“Oke deh mah! Malem mah…!”. Ungkap Rasya bungah.

“Tidur yang nyenyak ya sayang” Ucap Mama Rasya mengakhiri percakapan dirinya dengan Rasya. Telepon ditutup. Sekarang kangennya sudah dapat terobati, walaupun sedikit. Dan Rasya pun terus berlari menuju kamarnya. Diatas kasur, dia langsung menghempaskan tubuhnya. Tak perlu menghitung waktu lama, beberaa menit kemudian Rasya sudah terlelap tidur. Hanya sesekali gumaman kecil yang keluar dar mulutnya.

Kring… Kokok… Kriiiiing… Jam weker Rasya bebunyi. Rasya segera bangun dan meninggalkan mimpi indahnya. Rasya segera menuju kamar mandi.

Sekarang Rasya sudah memakai seragam SMU kebanggaannya. Beberapa kali ia mematut diri di depan cermin. Meski tidak memakai polesan bedak ataupun goresan lip gloss  seperti yang dipakai teman-temannya ke sekolah, Rasya terlihat cantik dan segar.

Tok…Tok… Suara pintu diketuk Bi Yati dari luar kamar Rasya. “Neng, sarapan pagi nya sudah siap” Bi Yati pembantu yang lama bekerja di keluarga Rasya sudah mengetuk pintu.

“Sebentar lagi Bi, Bi Yati duluan aja, ntar Rasya nyusul”. Ternyata Rasya masih membereskan buku catatan sekolahnya dan memasukkannya ke dalam tas selempang levis bertuliskan It’s Me andalannya.

Rasya menuruni tangga dan duduk di sebelah Bi Yati menikmati sarapan paginya. Setelah selesai Rasya tak pernah lupa berpamitan pada orang yang selalu menemaninya itu. Rasya sudah menganggap Bi Yati sebagai keluarganya sendiri. Bi Yati sudah lebih dari sepuluh tahun bekerja di rumah Rasya, sudah semestinya Rasya menghormati Bi Yati dan suaminya yang bekerja sebagai sopir keluarga dan Mang Maman jugalah yang mengurus kebun di pekarangan rumahnya.

“Bi, Rasya berangkat dulu, selamat bercengkrama ria dengan mas mu ya!” canda Rasya usil.

“Ih si neng ini, jadi malu bibi…”

Mang Maman yang merawat kebun keluarga Rasya sekaligus sopir pribadinya memberikan kunci motor matic pada Rasya dan membukakan pintu pagar untunya.

Meskipun begitu, Rasya tetap hormat pada mereka. Setidaknya itulah yang diajarkan oleh kedua orang tuanya semasa kecil dulu. Menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi orang yang lebih muda.

* Bersambung

Posted on 20 Oktober 2012, in Novel and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: