Aplikasi Model Pembelajaran Talking Stick di Sekolah Dasar

Latar Belakang

Proses Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh guru, dalam menyampaikan materi yang diajarkan kepada siswa dalam suatu lembaga pendidikan agar dapat mempengaruhi cara siswa mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

Tujuan pendidikan pada dasarnya mengajak para pesera didik menuju pada perubahan tingkah laku baik intelektual, moral maupun sosial. Dalam mencapai tujuan tersebut berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur oleh guru melalui proses pembelajaran. Seperti yang tercantum dalam pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (2005:15) yaitu:
“Fungsi tujuan nasional yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Dengan mengacu pada tujuan pendidikan nasional maka dengan sendirinya guru dituntut untuk dapat mengembangkan potensi anak didik dengan memperhatikan materi apa yang terkandung pada mata pelajaran yang akan diajarkannya karena dengan begitu maka seorang guru mampu memberikan yang terbaik bagi siswanya.

Seiring dengan perkembangan zaman serta Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, maka kita dituntut untuk terus mengadakan pembaharuan disegala lini kehidupan. Terutama yang bersentuhan langsung dengan kemajuan ilmu pengetahuan, dimana dalam Sistem yang ada di dalam pendidikan harus terus mengadakan perubahan kearah yang positif. Berbagai teknik pembelajaran, baik itu metode, pendekatan, maupun tata cara atau aturan dalam pembelajaran banyak dirancang untuk menghasilkan transfer ilmu pengetahuan dari guru ke siswa yang lebih optimal. Terkhusus Metode Pembelajaran Aktif Kretif Efektif dan Menyenangkan (PAKEM), di mana Hakikat pembelajaran sebenarnya adalah memberi rasa nyaman dan betah siswa (anak didik) dalam menerima pelajaran.

A.                Pengertian Inovasi Pendidikan

Inovasi adalah memperkenalkan sesuatu (penemuan-penemuan) yang baru baik berupa gagasan (ide-ide), tindakan (metodologi) maupun dalam bentuk bendawi/peralatan baru (teknologi).

Inovasi pendidikan adalah upaya penemuan baru dalam tataran konseptual maupun produk yang berangkat dari masalah nyata dalam dunia pendidikan. Ibrahim (1988) mengemukakan bahwa inovsi oendidikan adalah inovasi dalam bidang pendidikan atau inovasi untuk memecahkan masalah pendidikan. Jadi, inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi hasil seseorang atau kelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil inverse (penemuan baru) atau discovery (baru ditemukan orang), yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan.

B.                 Faktor-faktor yang Perlu Diperhatikan dalam Inovasi Pendidikan

Faktor-faktor utama yang perlu diperhatikan dalam inovasi pendidikan
adalah guru, siswa, kurikulum dan fasilitas, dan lingkup sosial masyarakat.

  1. Guru

Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan pihak yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Kepiawaian dan kewibawaan guru sangat menentukan kelangsungan proses belajar mengajar di kelas maupun efeknya di luar kelas. Guru harus pandai membawa siswanya kepada tujuan yang hendak dicapai. Ada beberapa hal yang dapat membentuk kewibawaan guru antara lain adalah penguasaan materi yang diajarkan, metode mengajar yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, hubungan antar individu, baik dengan siswa maupun antar sesama guru dan unsur lain yang terlibat dalam proses pendidikan seperti adminstrator, misalnya kepala sekolah dan tata usaha serta masyarakat sekitarnya, pengalaman dan keterampilan guru itu sendiri.
Dengan demikian, maka dalam pembaharuan pendidikan, keterlibatan guru mulai dari perencanaan inovasi pendidikan sampai dengan pelaksanaan dan evaluasinya memainkan peran yang sangat besar bagi keberhasilan suatu inovasi pendidikan. Tanpa melibatkan mereka, maka sangat mungkin mereka akan menolak inovasi yang diperkenalkan kepada mereka. Hal ini seperti diuraikan sebelumnya, karena mereka menganggap inovasi yang tidak melibatkan mereka adalah bukan miliknya yang harus dilaksanakan, tetapi sebaliknya mereka menganggap akan mengganggu ketenangan dan kelancaran tugas mereka. Oleh karena itu, dalam suatu inovasi pendidikan, gurulah yang utama dan pertama terlibat karena guru mempunyai peran yang luas sebagai pendidik, sebagai orang tua, sebagai teman, sebagai dokter, sebagi motivator dan lain sebagainya. (Wright 1987).

2. Siswa

Sebagai obyek utama dalam pendidikan terutama dalam proses belajar mengajar, siswa memegang peran yang sangat dominan. Dalam proses
belajar mengajar, siswa dapat menentukan keberhasilan belajar melalui penggunaan intelegensia, daya motorik, pengalaman, kemauan dan
komitmen yang timbul dalam diri mereka tanpa ada paksaan. Hal ini bisa terjadi apabila siswa juga dilibatkan dalam proses inovasi pendidikan,
walaupun hanya dengan mengenalkan kepada mereka tujuan dari pada perubahan itu mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan, sehingga apa yang mereka lakukan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dilaksanakan dengan konsekwen. Peran siswa dalam inovasi pendidikan tidak kalah pentingnya dengan peran unsur-unsur lainnya, karena siswa bisa sebagai penerima pelajaran, pemberi materi pelajaran pada sesama temannya, petunjuk, dan bahkan sebagai guru. Oleh karena itu, dalam memperkenalkan inovasi pendidikan sampai dengan penerapannya, siswa perlu diajak atau dilibatkan sehingga mereka tidak saja menerima dan melaksanakan inovasi tersebut, tetapi juga
mengurangi resistensi seperti yang diuraikan sebelumnya.

3. Kurikulum

Kurikulum pendidikan, lebih sempit lagi kurikulum sekolah meliputi program pengajaran dan perangkatnya merupakan pedoman dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Oleh karena itu kurikulum sekolah dianggap sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan
dalam proses belajar mengajar di sekolah, sehingga dalam pelaksanaan inovasi pendidikan, kurikulum memegang peranan yang sama dengan unsur-unsur lain dalam pendidikan. Tanpa adanya kurikulum dan tanpa mengikuti program-program yang ada di dalamya, maka inovasi pendidikan tidak akan berjalan sesuai dengan tujuan inovasi itu sendiri. Oleh karena itu, dalam pembahruan pendidikan, perubahan itu hendaknya sesuai dengan perubahan kurikulum atau perubahan kurikulum diikuti dengan pembaharuan pendidikan dan tidak mustahil perubahan dari kedua-duanya akan berjalan searah.

4. Fasilitas

Fasilitas, termasuk sarana dan prasarana pendidikan, tidak bisa diabaikan dalam dalam proses pendidikan khususnya dalam proses belajar mengajar. Dalam pembahruan pendidikan, tentu saja fasilitas merupakan hal yang ikut mempengaruhi kelangsungan inovasi yang akan diterapkan. Tanpa adanya fasilitas, maka pelaksanaan inovasi pendidikan akan bisa dipastikan tidak akan berjalan dengan baik. Fasilitas, terutama fasilitas belajar mengajar merupakan hal yang esensial dalam mengadakan perubahan dan pembahruan pendidikan. Oleh karena itu, jika dalam menerapkan suatu inovasi pendidikan, fasilitas perlu diperhatikan. Misalnya ketersediaan gedung sekolah, bangku, meja dan sebagainya.

5. Lingkup Sosial Masyarakat.

Dalam menerapakan inovasi pendidikan, ada hal yang tidak secara langsung terlibat dalam perubahan tersebut tapi bisa membawa dampak, baik positif maupun negatif, dalam pelaklsanaan pembahruan pendidikan. Masyarakat secara tidak langsung atau tidak langsung, sengaja maupun tidak, terlibat dalam pendidikan. Sebab, apa yang ingin dilakukan dalam pendidikan sebenarnya mengubah masyarakat menjadi lebih baik terutama masyarakat di mana peserta didik itu berasal. Tanpa melibatkan masyarakat sekitarnya, inovasi pendidikan tentu akan terganggu, bahkan bisa merusak apabila mereka tidak diberitahu atau dilibatkan. Keterlibatan masyarakat dalam inovasi pendidikan sebaliknya akan membantu inovator dan pelaksana inovasi dalam melaksanakan inovasi pendidikan.

C.                Model pembelajaran Talking Stick

Talking stick (tongkat bicara) adalah metode yang pada mulanya digunakan oleh penduduk asli Amerika untuk megajak semua orang berbicara atau menyampaikan pendapat dalam suatu forum (pertemuan antar suku).

Tongkat berbicara telah digunakan selama berabad-abad oleh suku-suku Indian sebagai alat menyimak secara adil dan tidak memihak. Tongkat berbicara sering digunakan kalangan dewan untuk memutuskan siapa yang mempunyai hak berbicara. Pada saat pimpinan rapat mulai berdiskusi dan membahas masalah, ia harus memegang tongkat. Tongkat akan pindah ke orang lain apabila ia ingin berbicara atau menanggapinya. Dengan cara ini tongkat berbicara akan berpindah dari satu orang ke orang lain jika orang tersebut ingin mengemukakan pendapatnya. Apabila semua mendapatkan giliran berbicara, tongkat itu lalu di kembalikan lagi ke ketua/pimpinan rapat.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa talking stick dipakai sebagai tanda seseorang mempunyai hak suara (berbicara) yang diberikan secara bergiliran/bergantian.

Adapun kelebihan model pembelajaran talking stick ini adalah :

  1. Menguji kesiapan siswa.
  2. Melatih membaca dan memahami dengan cepat.
  3. Agar lebih giat dalam belajar.

Dengan kelebihan-kelebihan diatas maka model pembelajaran talking stick ini memiliki kelemahan, yaitu  membuat siswa senam jantung.

D.                Aplikasi Model Pembelajaran Talking Stick di Sekolah Dasar

Seperti yang telah diketahui bersama, pendekatan pembelajaran yang sering digunakan di beberapa kelas di sekolah dasar adalah pendekatan yang berpusat pada guru, bahwa proese pembelajaran di sekolah dasar masih menggunakan metode ceramah, tanya jawab, membahas soal-soal dan berdiskusi. Hal ini menyebabkan siswa kurang aktif dalam pembelajaran, siswa tidak berpartisipasi dalam proses pembelajaran, suasana didalam kelas menjadi monoton dan membosankan, sehingga menimbulkan aktivitas dan motivasi dalam diri siswa untuk belajar masih kurang.

Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, maka dapat digunakan pembelajaran yang berpusat pada siswa, hal ini juga diharapkan dapat mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan sikap dan perilaku. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran talking stick. Model pembelajaran ini akan mendorong siswa untuk lebih menguasai materi.

Adapun langkah-langkah pembelajaran dalam model pembelajaran talking stick adalah :

  1. Guru menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm.
    1. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari,kemudian memberikan kesempatan para kelompok untuk membaca dan mempelajari materi pelajaran.
    2. Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana.
      1. Setelah siswa selesai membaca materi  pelajaran dan mempelajari isinya, guru mempersilahkan siswa untuk menutup isi bacaan.
      2. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada salah satu siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
      3. Guru memberikan kesimpulan.
      4. Guru memberikan evaluasi/penilaian.
      5. Guru menutup pembelajaran.

Contoh RPP model pembelajaran Talking Stick:

 

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

 

Nama Sekolah            : ….

Mata Pelajaran          : Bahasa Inggris

Kelas/Semester          : IV/1

Pertemuan Ke-           : 4

Alokasi Waktu           : 2 x 35 menit

Standar Kompetensi            :   Dapat menyebutkan nama-nama benda yang terdapat didalam rumah

 

KompetensiDasar                :Membaca nyaring, menyebutkan nama-nama benda yang terdapat didalam rumah dengan lafal dan intonasi yang jelas

 

Indikator                                : Siswa menemukan kosakata baru yaitu nama-  nama benda yang tedapat didalam rumah

Dapat menyebutkan kosakata dengan lafal dan intonasi yang jelas

I. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari bab ini, diharapkan siswa mampu menghafal dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari

 

II. Materi Pembelajaran

Lingkungan Rumah

 

III. Metode Pembelajaran

Informasi, dan tanya jawab dengan model pembelajaran talkingstick, pemberian tugas tes tulis matching (menjodohkan)

 

IV. Langkah-Langkah Pembelajaran

a.      Kegiatan Awal

  • Memberi salam dan berdoa.
  • Memeriksa kehadiran siswa.
  • Menyampaikan materi pokok dan tujuan pembelajaran.
  1. b.      Kegiatan Inti
  • · Siswa diberikan kesempatan untuk membaca dan mempelajari materi pada kamus bergambar dan buku paketnya
  • · Siswa setelah selesai membaca buku, kemudian siswa diperintahkan untuk menutup bukunya.
  • Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa.
  • · Kemudian guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru.
  • · Demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawabnya setiap pertanyaan dari guru
  1. c.       Kegiatan Akhir
  • Guru memberikan kesimpulan dari pembelajaran yang dilakukan.
  • Guru memberikan evaluasi atau penilaian.
  • Guru menutup pelajaran.

V. Alat/Bahan/Sumber Belajar

  • ● Buku paket Bahasa Inggris untuk Sekolah Dasar Kelas IV penerbit      Erlangga halaman 58
  • ● Kamus bergambar halaman 31
  • ● Alat-alat tulis
  • ● Tongkat ukuran 20 cm.

 

VI. Penilaian

Tes lisan :

  • Keaktifan dalam menjawab pertanyaan, sikap, dan tingkah laku.
  • Ketepatan jawaban.
  • Keseriusan dan konsentrasi dalam menyimak pertanyaan

Tes tulis

  • Matching (menjodohkan)

PENUTUP

A.                Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas dapat penulis simpulkan bahwa :

▪ Inovasi pendidikan sangat ditunjang keberadaannya dengan faktor-faktor yang ada di dalam ruang linkup sekolah.

▪ Inovasi pendidikan dapat dilakukan oleh siapa saja, baik itu siswa maupun guru dengan objek inovasi yang relavan.

▪ Tidak semua inovasi diterima oleh masyarakat luas pada umumnya karena banyak kendala yang harus dihadapi dalam pelaksanaan inovasi pendidikan.

▪ Karena tuntutan zaman inovasi dapat berubah dengan inovasi-inovasi baru yang lebih efektif dan efisien dalam penggunaannya.

▪ Model pembelajaran talking stick merupakan inovasi pendidikan dalam proses pembelajaran yang menuntuk keaktifan dan partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar.

▪ Bukan saja guru yang aktif dan memotifasi siswa dalam proses pembelajaran tetapi juga model pembelajaran yang digunakan akan mempengaruhi tercapainya aktivitas dan hasil belajar siswa.

B.                 Saran

Adapun saran yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut:

▪ Guru harus kreatif dan pintar memilih model, metode, dan strategi apa yang harus diterapkan ketika proses belajar mengajar berlangsung.

▪ Bagi guru SD diharapkan untuk mencoba model pembelajaran talking stick (cocok untuk semua mata pelajaran), karena dapat memberikan respon positif terhadap pembelajaran dan meciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

▪ Guru perlu mengatur waktu, menyiapkan rencana kegiatan dan media yang tepat sehingga pembelajaran yang dilakukan dapat berlangsung secara optimal dan efisien sehingga tuntutan kurikulum tercapai.

Posted on 16 Oktober 2012, in Tugas Kampus and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: