MOS Ajang Penyaluran Balas Dendam Siswa

Baru-baru ini banyak diberitakan di media massa maupun elektronik baik cetak maupun internet tentang korban kekerasan dalam MOS atau yang sering kita kenal Masa Orientasi Siswa. Sebenarnya, apa sih arti dari MOS itu sendiri? Apakah benar Masa Orientasi Siswa? Atau Masa Orientasi Suram? Masa Olok-olok Siswa? Atau mungkin Masa arOgansi Siswa?

Teringat tujuh tahun ke belakang dimana saya mengalami masa tersebut. Masa dimana saya melakukan hal-hal yang tidak masuk akal menurut saya. Masih selalu menjadi pertanyaan di benak saya setiap kali diadakan MOS, kenapa harus selalu menempelkan pita warna warni di rambu atau kerudung kita? Kenapa harus memakai kaos kaki yang berbeda warna satu sama lainnya? Kenapa tali sepatu kita harus diganti dengan tali rafia yang berbeda warna? Kenapa juga harus membawa benda-benda, barang, alat, atau bahan (saya bingung harus menyebutnya apa) yang menurut saya tidak mendukung dalam kegiatan MOS? Seperti halnya bola pingpong bervitamin C, tentara hijau 2015, cokelat balon di udara, dan lain-lain yang menjadi teka-teki bagi siswa. Kenapa tidak langsung disebutkan saja nama bendanya? Bahkan jika kita membawa benda yang salah, kita akan terkena sanksi atau mendapat hukuman seperti omelan dan olok-olok panitia atau hukuman yang tidak sesuai.

Sebelumnya saya pikir benda-benda itu untuk kita makan ketika istirahat, tapi ternyata bukan sama sekali. Benda-benda dengan nama aneh yang kita bawa akan dikumpulkan dan entah kemana perginya kita tidak tahu. Boro-boro ada waktu untuk makan, hanya untuk sekedar istirahatpun (selonjoran kaki misalnya) sangat haram untuk dilakukan. Jika ketahuan melakukannya, kita akan mendapatkan omelan dari seksi keamanan.

Meneliti dari masalah yang sedang berkembang, menurut saya, MOS adalah masa perkenalan siswa terhadap sekolah, dimana yang diperkenalkannya itu adalah objek, subjek, dan fasilitas sekolah itu sendiri. Dari sisi objek kita diperkenalkan pada bangunan sekolah, kelas, laboratorium, gedung olahraga, ruang kesehatan, dan lain-lain, baik itu diperkenalkan secara langsung maupun tidak langsung. Kemudian kita diperkenalkan pada mata pelajaran-mata pelajaran yang akan kita pelajari disana, diperkenalkan juga organisasi-organisasi yang langsung berada dibawah lindungan kepala sekolah seperti OSIS, PRAMUKA, PMR, PASKIBRA dan klub-klub minat dan bakat yang ingin kita ikuti sebagai kegiatan ekstrakurikuler.

Adapun dari sisi subjek kita akan diperkenalkan kepada  orang-orang yang berpengaruh  atas sekolah itu, seperti kepala sekolah, guru kelas, guru mata pelajaran, para staf akademika, bahkan sampai satpam dan office boy. Selain itu kita akan mengetahui siapa the king of organizations dan ketua klub ektrakurikuler yang sangat populer di masa kejayaannya.

Yang terakhir adalah fasilitas, seperti yang kita tahu fasilitas adalah sarana yang mendukung untuk kegiatan belajar kita nantinya.

Melihat tujuannya, kegiatan MOS sangat membantu untuk memperkenalkan siswa pada sekolah barunya, namun  sepertinya MOS saat ini tidak cocok digunakan di kalangan SMP (Sekolah Menengah Pertama), karena anak-anak atau remaja yang sedang berkembang pada zaman ini terkesan manja. Kenapa saya bisa mengatakan manja karena remaja zaman sekarang diberi keleluasaan hak bersuara di berbagai media, terutama media sosial.  Dan hal tersebut menjadi tempat pengaduan remaja sekarang.

MOS akan terus memakan korban jika terus dilakukan seperti sekarang ini, menggunakan asas senioritas. Apalagi dengan kepanitiaan yang tidak diarahkan langsung oleh guru bahkan kepala sekolah, atau hanya mengandalkan kehendak kakak kelas yang pernah mengalami MOS sebelumnya.

Dalam kegiatan MOS seharusnya diikutsertakan pihak-pihak di bidangnya, seperti dinas pendidikan setempat, perangkat sekolah setempat, komite sekolah, orang tua, bahkan masyarakat.  Karena pada dasarnya MOS adalah masa perkenalan siswa baru kepada sekolah barunya, sedangkan sekolah itu berada di lingkungan yang sangat luas.

Melihat keadaan ini, saya selaku insan pelaku di bidang pendidikan turut khawatir dan ingin sedikit memberi saran kepada pemerintah karena ditakutkan akan ada lagi korban MOS lainnya.

Jika terjadi lagi korban MOS, baik itu tindakan kekerasan atau kelalaian, pemerintah dalam hal ini menteri pendidikan dan kebudayaan sesegera mungkin menindaklanjuti sekolah yang memakan korban MOS itu. Seperti menindaklanjuti panitia yang di dalamnya mungkin terlibat siswa, guru, kepala sekolah, bahkan dinas pendidikan di lingkungan sekolah yang bersangkutan. Untuk sanksi berat, pemerintah juga dapat mengurangi, membekukan, bahkan mencabut status akreditasi sekolah tersebut jika terjadi hal yang fatal.

Selain guru, saya juga salah seorang pemerhati masyarakat. Saya pikir, masalah ini harus secepatnya diselesaikan agar tidak ada korban-korban MOS lainnya.

Sepenggal Kisah LDR

Aku kembali membuka facebook yang telah lama aku abaikan. Sejak putus dari pacarku yang kesekian tujuh bulan lalu. Beberapa pemberitahuan baru, permintaan pertemanan baru, dan pesan baru muncul berderet. Dengan lemas aku membuka satu persatu pesan baru berharap ada kata permintaan maaf dari “mantanku” dan permintaan untukku kembali padanya. Namun tidak ada satupun namanya muncul dari list itu. Dan aku sadar “Okesip aku jomblo sekarang”. (kenapa baru sadar setelah tujuh bulan putus darinya? Kemarin kemana aja? Helooooow???)

Mataku kemudian terbelalak tiba-tiba menemukan sebuah nama “SiKiSa” yang aku pikir “mantanku” mengirim pesan. Dan pesan itu berisi “kamu pangling sekarang, kurusan, sehat kan?” aku lihat tanggal pengirimannya ternyata lima bulan lalu. Tak lama aku balas dengan menanyakan siapakah gerangan dirinya. Aku meyakinkan diri kalau itu adalah mantanku yang aku tunggu kabarnya. Lima detik tidak ada balasan, satu jam belum ada balasan juga, sambil menunggu balasannya aku iseng membuka foto-fotonya namun sayang semuanya di privat. Setelah itu aku lupa berapa kali aku mengecek inbox facebookku itu sehingga aku tertidur nyenyak. Seminggu tidak ada balasan juga. Dan aku berpikir untuk menyudahi rasa penasaran ini. Namun keesokan hari nya dia “SiKiSa” membalas “selain kurusan kamu juga sombong sekarang”. Sengaja aku abaikan dulu dan membuka kembali profilnya, entah kenapa aku mengklik albumnya beruntung albumnya sudah tidak diprivat lagi dan ternyata dia adalah teman SMPku. Aku ingat lima bulan lalu itu adalah hari dimana aku berkumpul reuni dengan teman-teman semasa SMPku. Refleks kemudian aku minta maaf lupa tentang dirinya, namanya, dan hampir juga wajahnya. Maklum saja sudah hampir lima tahun tidak bertemu. Sekarang dia kuliah di salah satu universitas di Bandung dan aku kuliah di kampung halaman sendiri. Percakapan itu terus berlanjut sampai hari-hari berikutnya, baik chatting, YM, SMS, bahkan telepon. Mungkin karena aku kesepian, aku merasa nyaman berchatting ria dengannya.

Setelah tiga bulan hanya berkomunikasi di dunia maya, akhirnya dia pulang ke kampung halamannya yang notabene satu kota denganku. Semenjak lulus SMP- lima tahun lalu-itu adalah hari pertama aku melihatnya lagi dari ujung kaki sampai ujung rambut. Aku tidak mengelak ketika dia melihatku waktu acara reuni SMP-delapan bulan lalu-namun sayang aku tidak melihanya (mungkin lebih tepatnya adalah tidak memperhatikannya). Namun itu tidak masalah bagi kami, yang jelas sekarang aku of course tidak karuan. Hari pertama bertemu kembali dan semuanya terasa AWKWARD. Kami lebih banyak diam, bertentangan sekali saat bercengkrama di dunia maya. Kami hanya saling pandang dan saling membalas senyuman. Setelah melewati kekonyolan itu kami saling tertawa mengingat masa-masa SMP yang sangat mengharukan. Hari itu kami lewatkan untuk kuliner, sekedar foto-foto, dan bercerita kesana kemari. Selagi dia disini adalah hari-hari yang tidak boleh terlewatkan begitu saja. Namun rencana tinggal rencana, hari-hari terakhir, dia mulai mengingkari janjinya untuk bertemu dengan alasan banyak hal, dan dia pun pamit lewat SMS untuk kembali ke Bandung.

Satu bulan tidak ada komunikasi diantara kami, kemudian dia datang lagi memberi kabar di inbox, namun seolah tidak ada masalah dan tidak sedikitpun rasa bersalah atas semua yang terjadi belakangan ini. Sejenak aku berpikir “memang tidak ada hubungan apa-apa kenapa harus dipermasalahkan?” aku hanya kegeeran-mungkin dia hanya menganggap aku adalah teman biasa dan bukan teman spesial bukan juga pacar-

Pertemuan berikutnya terjadi tanggal 01 September 2010 ketika teman SMP kami mengadakan acara kumpul bareng dirumahnya. Aku tidak tahu dan tidak menyangka dia akan datang, surprise dia datang dan mengungkapkan semua perasaannya terhadapku selama ini. Dan hari itupun dia menjelaskan alasannya mengingkari janjinya untuk tidak melewatkan hari-hari pada pertemuan pertama waktu itu. Waktu itu adalah hari-hari terberat baginya karena baru putus dari pacarnya, dia memutuskan hubungan dengan pacarnya itu karena alasan dia dipertemuakan lagi denganku, dia mengungkapkan bahwa dirinya memang telah memendam perasaannya terhadapku dari zaman SMP dulu. Sengaja aku minta waktu untuk memikirkannya. Ini bukan masalah menerima atau menolak. Yang aku pikirkan adalah persahabatan kami nantinya. Memang aku ingin menjadi yang spesial untuknya tapi bukan pacar. Aku banyak bertanya pada teman-temanku yang juga teman-temannya. Setelah aku berpikir lama dan mempertimbangkan ini itu akhirnya seminggu kemudian aku menerima dia dengan catatan jangan melupakan persahabatan yang telah lama kita bangun beberapa tahun ini.

Aku ingat betul tanggal jadian kami 080910. Kami tidak merencanakannya. Karena yang direncanakan-dia-adalah tanggal 010910. Kami menganggap itu hanya kebetulan, tapi semuanya telah direncakan oleh Alloh SWT. Aku tidak tahu.

Karena kami kuliah di tempat yang berbeda, memang jarak tidak terlalu jauh, mungkin hanya membutuhkan waktu 3-4 jam untuk sampai ke tempatnya, tapi aku ingin menjalani hubungan ini dengan pemikiran dewasa. Aku tidak ingin mengganggu waktu kuliahnya begitipun dengannya, dia juga tidak ingin mengganggu waktu kuliahku. Kami sepakat untuk menjalani LDR-long distance relationship-waktu itu. Kami sepakat untuk saling bertemu tiga bulan sekali, itupun tidak sampai sehari, mungkin hanya beberapa jam saja. Namun memang begitu seharusnya toh kami tidak pernah putus komunikasi, kami saling percaya satu sama lain, tidak hanya itu kami pun punya SPY masing-masing. Karena banyak temanku yang kuliah di universitas yang sama dengannya, walaupun temannya tidak ada yang kuliah ditempatku namun ada beberapa teman kami yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Mungkin karena itu kami tetap saling menjaga kepercayaan dan tetap saling berkomunikasi.

Tiga bulan pertama waktu itu bulan desember, dia pulang untuk menepati kesepakatan kami. Kami sama-sama saling merindukan. Waktu itu dia pulang hari sabtu dan kami bertemu hari minggu. Tidak kami sia-siakan, hari minggu itu kami gunakan waktu untuk saling berbagi cerita, nonton, makan. Memang hal sepele namun bagi kami itu sangat berkesan. Jujur saja sebelumnya aku belum pernah menjalani LDR seperti ini. Sepulangnya ke Bandung seperti biasa kami berkomunikasi hanya lewat SMS, telepon dan facebook hanya kami gunakan untuk bercanda dan mengomentari kegiatan yang kami share disana.

Akhir tahun menuju ke awal tahun itu adalah waktu-waktu yang sangat menyedihkan bagi kami, khususnya bagiku. Tidak tahu kenapa aku merasa kesepian, semua orang temanku bercengkarama dengan pasangannya masing-masing, baik itu face to face ataupun melalui telepon ada yang pergi bersama pasangannya untuk sekedar merayakan tahun baru di keramaian kota. Namun tidak untukku. Tidak ada SMS, tidak ada telepon, apalagi pertemuan. Sengaja aku SMSnya lebih dulu, namun beberapa menit, beberapa jam kemudian tidak ada balasan. Pukul sebelas malam aku memutuskan untuk tidur. Tidak berapa lama sebelum tidurku pulas remang-remang aku mendengar bunyi hp berdering. Aku mengangkatnya lemas dan PREEEEETTTT PREEEEETTT PREET aku terbangun seketika dan inilah ucapan yang paling membahagiakan itu“happy new year sayang semoga tahun ini menjadi tahun yang lebih mendewasakan kita”

Ada yang harus dibayar dalam detik-detik penantian tahun baru itu, semuanya terbayar lunas plus dengan bonusnya. Rasa kantukku seketika hilang. Ada kemajuan dalam hubungan kami, kami selalu merasa dekat karena kami menggunakan videocall. Lucunya saat kami Vcall, SMS dan komentar di facebook tetap lanjut, rasanya kami tidak bosan saling mengoceh disemua dunia. Malam itu percakapan kami berlanjut sampai pagi, karena tidak ada yang mau mengalah menutup telepon. Tidak apa pulsa habis dan uang limit, semuanya terbayarkan dengan kebahagiaan di malam tahun baru.

Tiga bulan kedua dia pulang dan menepati janjinya. Ada beberapa kegiatan yang telah kami agendakan karena pada tanggal 17 maret ini adalah hari ulang tahunnya. Seperti seorang kekasih kebanyakan aku memberinya kue ulang tahun dan sepasang sepatu sebagai kadonya, karena aku ingin hubungan ini seperti kisah sepasang sepatu. Tahukah kalian kenapa sepatu dicipatakan sepasang? Itu karena meskipun mereka berdua jalan tidak pernah berdampingan, namun tujuan mereka sama. Dan kalau salah satu di antara mereka hilang, maka yang satunya lagi tidak akan ada artinya. Karena mereka diciptakan untuk selalu bersama-sama. Aku bukan orang yang romantis, bahkan aku adalah orang yang cenderung cuek namun dia tidak pernah merasa bosan padaku-mungkin belum-.

Tiga bulan ketiga, seperti halnya tiga bulan kedua, dia berencana pulang bertepatan dengan hari ulang tahunku. Kebetulan ulang tahunku berselang tiga bulan dari hari ulang tahunnya. Ya 18 Juni ini adalah hari dimana 21 tahun yang lalu aku dilahirkan. Memang tidak ada surprise karena semuanya sudah direncanakan, namun entah mengapa aku sangat bahagia merayakan ulang tahun tepat disampingnya. Dia menyanyi kan sebuah lagu sebagai kado ulang tahun untukku. Lagu Taylor Swift ft Boys Like Girls “Two is Better than One” adalah lagu kenangan kami. Namun kado itu tidak sampai disitu, dia memberiku kacamata plus buku yang harus-kami-baca bersama-sama. Kondisi kami sama, kami adalah mahasiswa hampir tingkat akhir di universitas. Seolah diingatkan, dia memberiku novel berjudu “SKRIPSHIIT!!!” aku hanya menggelengkan kepala dan tertawa, walaupun direncanakan namun bagiku semuanya adalah kejutan.

Beberapa bulan berikutnya semuanya aman dan masih terkendali. Kami melewatkan puasa ditempat yang berbeda, namun kami saling mengingatkan sahur dan buka puasa. Kami selalu ingin saling mendahului mengingatkan bahkan dari adzan magrib sekalipun. Dan tibalah pada saat dimana semua orang wajib saling maaf memaafkan. Seperti halnya manusia biasa kami mempunyai kesalahan dan kekhilafan ketika tidak bersama baik sadar maupun tidak sadar. Hari itu adalah hari dimana para orang tua kami saling bersalam-salam via telepon, walaupun belum secara langsung tapi sepertinya mereka punya hal menarik untuk dibicarakan ya tidak lain dan tidak bukan adalah KAMI.

Itulah hari-hariku dengannya bersama LDR ini. Tepat setahun usia hubungan kami 080911 seperti biasa kami hanya melewatkannya di udara. Ada sedikit kecewa karena beberapa bulan kedepan dia akan disibukkan dengan praktek lapangannya, teringat kembali pada niat awal bahwa aku tidak akan mengganggu program kuliahnya, apapun itu. Aku hanya bisa mensuport lewat sms-sms yang jarang dibalasnya, dan lewat doa untuk kelancaran prakteknya. Saat itu semuanya hampir berubah, sms jarang dibalasnya, telepon jarang diangkatnya. Dan kalaupun diangkat, suaranya selalu terdengar lirih, tidak jarang aku menyemangatinya namun semuanya selalu berakhir dengan kesalahpahaman. Hari-hari berikutnya aku biarkan semuanya bebas, namun aku tidak lupa menyemangatinya lewat sms-sms yang aku kirimkan. Beberapa minggu berlalu dan dia masih disibukkan dengan tugas kuliahnya. Aku mencoba mengerti dan untungnya aku cukup sabar. Mungkin itulah buah yang aku petik dari kecuekanku, aku tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal sepele selama aku dan dia tetap saling percaya. Mugkin saat ini komunikasi tidak ada, tapi selama kepercayaan itu ada semua akan baik-baik saja.

Tahun baru 2012 tidak seperti tahun baru kemarin tidak ada telepon, tidak ada kejutan, tidak terompet tidak juga ucapan harapan. Hanya sms biasa mengingatkan tahun baru dan istirahat.

Enam bulan dari pertemuan kami yang terakhir, kami belum juga bertemu sampai bulan maret ini. Bulan ini adalah bulan yang seharusnya kami jadwalkan untuk bertemu karena bulan ini adalah bulan yang sangat bersejarah baginya. Dan akhirnya kami tidak bertemu sama sekali, hanya untaian doa yang aku sampaikan melalui SMS dan nyanyian serta ungkapan ceria ditelepon.

Beberapa hari berlalu dan semua sama saja. Aku ingin berbagi dengan temanku yang notabene adalah temannya juga. Dan barulah aku mengerti kenapa dia berubah, dia tidak suka sifat acuh tak acuhku, dia tidak suka sikap sabarku, dia tidak suka sikap mengalahnya aku. Dia ingin aku yang selalu mengutamakan dia, dia ingin aku yang pertama sms ataupun telepon, dia ingin aku mengganggunya walaupun dia kelelahan, dan dia ingin selalu ada aku untuknya walaupun tidak disampingnya. Aku mulai berpikir “apakah aku seacuh itu?” baginya iya, dan lagi-lagi karena sikap acuhku aku tidak menyadari itu.

Akupun mulai merubah sikapku. Aku mencoba untuk selalu mengutamakannya, aku mencoba untuk tidak bertindak flat, walaupun merasa janggal atas sikap sendiri tapi lama kelamaan hal itu menjadi biasa dan wajar. Dengan begitu kami adalah pasangan yang sama-sama tidak mau merasa kehilangan. Kami pun jadi intens bertemu dan mencoba hal-hal baru ketika bertemu. Kami sering jalan-jalan, kami travelling ke luar kota, dan selalu ada hal-hal menarik yang dilakukan.

Pertengahan mei tepat di usia 1,5 tahun hubungan kami, kami mengalami sebuah kecelakaan. Waktu itu adalah masa-masa sulit kami, kami terlalu bersemangat pada hubungan ini. Bulan itu kami kecelakaan dan membutuhkan banyak uang untuk pengobatanku, aku tidak memberitahu orang tuaku karena takut mereka khawatir. Aku melakukan operasi dengan semua biaya ditanggungnya, karena aku tidak ingat apa-apa. Untuk biaya rumah sakit dia menggadaikan motornya dan menjual gadget keluaran terbarunya, akhirnya aku bisa keluar dari rumah sakit dan aku mulai berobat jalan namun biaya pengobatan itu tidak murah akhirnya aku merelakan handphoneku untuk dijual juga. Saat itu kami berniat benar-benar ingin menjaga hubungan ini, kami terlalu banyak berkorban bahkan nyawa kamipun hampir terenggut sia-sia.

Beruntunglah dia termasuk mahasiswa berprestasi di kampusnya, beberapa kali dia mendapat beasiswa dari pemerintah dan kampus tempatnya kuliah. Satu persatu fasilitasnya kembali. Pertama dia menebus motornya. Kedua, sebagai hadiah ulang tahunku dia membelikan aku handphone dengan fitur dan aplikasi terbaru pada waktu itu. Dia selalu membuat aku terharu dan bahagia, dia selalu menomorsatukan aku, karena itu aku sangat mencintainya. Dia belum berniat membeli gadget karena yang penting adalah aku tetap bisa berkomunikasi dengannya.

Tidak lama kemudian aku mendapat hadiah dari kampus atas kemenangan lomba lariku, memang tidak banyak tapi cukuplah untuk nambah-nambah. Uang beasiswanya yang masih aku simpan di rekening tetap menjadi modal utama untuk membelikannya gadget terbaru itu.

Seperti halnya aku, dia sangat bahagia karena semua fasilitas yang dulu sempat kami miliki akhirnya dapat kembali kami miliki. Motor, gadget, handphone, terutama nyawa kami. Kami harus selalu bersyukur kepada Maha Pemilik segalanya.

Bulan Juni, kali ini aku yang disibukkan dengan kegiatan kampus. Ya KKN-kuliah kerja nyata-membuatku acuh lagi pada kekasihku itu. Aku terlalu sibuk pada kegiatan ini, karena aku adalah orang yang kritis terhadap suatu program. Kadang aku lupa SMS, aku membaca SMS darinya tapi lupa membalasnya, pulsa habis adalah alibi yang sangat jitu saat itu. Bahkan mungkin yang lebih menyakitkan adalah ketika kita bisa mengganti status di BBM tapi chatnya hanya diread tanpa ingin membalasnya nah loh sekarang alibinya apa? Tiba-tiba aku menjadi orang yang mau menang sendiri, tapi dia memahamiku. Yang menjadi pikiranku sekarang adalah “apa aku harus merasa beruntung ataukah merasa bersalah?”

Sebagai bahan pertimbangan atas kepercayaannya padaku, aku membebaskan dia datang ke lokasi tempatku melakukan kegiaiatan KKN kapan saja. Dan akhirnya dia rutin datang ke lokasi di hari sabtu atau minggu. Lokasi ku berdekatan dengan kawasan wisata pantai dan bendungan sungai. Kamipun menghabiskan waktu di tempat wisata itu. Tiba-tiba dia ingin pergi ke pantai, beruntungnya aku mendapat jatah libur. Bergegas, hari minggu pagi itu kami pergi ke pantai. Beberapa jam kami habiskan disana, mulai dari berenang, menyusuri hutan lindung dan gua-gua, dan berlari saling berkejar-kejaran dengan deburan ombak. Minggu sore kami pulang membawa segudang cerita dan semangkuk oleh-oleh udang untuk sekedar berbagi bersama teman-teman di lokasi KKN.

Setelah kegiatan kampus berakhir aku kembali menjadi Zema yang selalu dia inginkannya. Namun mungkin aku terlalu berlebihan, aku berubah menjadi orang yang protektif bahkan posesif. Aku sering mengganggunya ketika dia sibuk di kegiatan kampus, aku yang selalu ingin dimanja dan dinomorsatukannya. Aku menjadi orang yang tidak sabar bahkan selalu mencurigainya jika dia telat balas SMS atau telat mengangkat telepon dariku. Dan beberapa hal lain yang menurutnya berlebihan. Karena tindakanku itu kami jadi sering salah paham dan kamipun bertengkar. Bahkan kami menjadi pasangan yang paling egois dan kekanak-kanakan menurut teman-teman kami.

Tapi tidak ada kata “putus” yang terucap dalam pertengkaran itu, yang terjadi adalah pengertianku yang semakin besar. Aku mengerti, apa yang selama ini aku lakukan salah. Mengekangnya dan memenjarakannya adalah hal terbodoh yang pernah aku lakukan. Bulan puasa menjelang, kamipun tidak seharmonis dulu. Padahal tidak ada kegiatan kampus yang kami kerjakan saat itu, perkuliahan pun sedang masa libur semester genap. Kami lebih sering berada di rumah masing-masing meskipun kami tinggal di satu kota yang sama. Kami memberi kabar seadanya, kami bertemu hanya ketika teman-teman kami mengajak untuk berkumpul dan buka puasa bersama, di waktu itupun hanya obrolan singkat tidak penting yang terlontar dari mulut kami. Aku tidak bisa berbicara banyak, karena sampai saat itu aku belum mengerti apa yang diinginkannya. Bahkan di facebook tempat pertama kali kami kembali bertemupun tidak ada atmosfer untuk saling memulai. Yang aku lihat disana hanya komentar-komentar-spam-bersama teman-temannya lebih parah dengan teman perempuan di kampusnya yang selama hampir 2 tahun ini tidak dilakukannya. Dari situ lah aku mengerti kami bukan lagi kami. Aku bukan aku, dia bukan dia, aku bukan dia, dan dia bukan aku. Kami tidak saling mengenal satu sama lain.

Lebaran tiba, hari itu hari minggu tanggal 19 agustus 2012, kami tidak ada inisiatif untuk saling minta maaf dan memaafkan. Sampai akhirnya aku disadarkan oleh ibuku untuk meminta maaf pertama kali, toh memang tidak ada salahnya, malah menjadi pahala yang utama di hari yang fitri ini. Aku tidak yakin dia ada di rumah saat lebaran seperti ini, aku membuat rencana B berjaga-jaga jika tidak sampai bertemu dengannya hari itu. Aku menulis surat, panjang lebar aku jelaskan, entahlah apa aku bisa membuatnya mengerti atau hanya akan membuatnya bingung dan memperuncing masalah. Aku hanya menuruti kata hatiku.

Sampai di rumahnya aku bertemu umi, ibunya. Kami sempat mengobrol banyak, aku mencoba fokus pada dua tujuanku: untuk bertemu dia dan meminta maaf. Namun yang ditunggu tidak juga datang. Aku pasrah dan pamit pulang, aku sempat menitikan air mata dihadapan umi, dan umi memelukku, aku merasa dikuatkan dan tegar kembali. Terima kasih umi, hanya itu yang aku ucapkan pada umi terakhir kali.

Hari itu juga aku titipkan suratku pada sahabatku yang juga sahabat terdekatnya. “Selama hampir dua tahun ini adalah kenangan yang tak bisa aku lupakan sampai kapanpun” ucapku sambil tersenyum seolah aku mengikhlaskan semuanya…

Lesson Plan: ESA (Engaged, Study, Activate)

Menyambung dari postingan sebelumnya tentang ESA (Engaged, Study, Activate), metode pembelajaran ini bertujuan untuk meningkatkan siswa dalam berpikir dan berbicara dalam bahasa Inggris. Di bawah ini saya menuliskan lesson plan atau rencana pembelajaran menggunakan metode pembelajaran ESA (Engaged, Study, Activate).

Date               : 
Subject            : English
Grade              : 4th
Unit               : Family
Allocation of Time : 1 x 45 minutes
1. Competence Standard
Respond to simple verbal instructions in the context of class
2. Basic Competency
2.1  Respond with appropriate actions are acceptable in the context of the instructions class
2.2  Respond to simple verbal instructions in the context of class
3. Indicator
3.1  Ask and providing answers to someone
3.2  Recognize the term family relationships
3.3  Tell their respective families
4. Purpose of Learning
4.1  Students can ask and answer about someone in the family
4.2  Students can identify in terms of family relationships
4.3  Students dapatmenceritakan respective families
5. Learning Material
My Family
6. Learning Method
ESA (Engaged, Study, Activate)
7. Learning Activities
7.1  Initial Activities
7.1.1            Regards, teachers introduce themselves to students, say hello and give motivation to the students.
7.1.2            Teachers ask about lessons at a previous meeting and then relate the material to be studied.
7.1.3            Teachers communicate learning goals
7.2  Core Activities
7.2.1            Teachers show a video about family
7.2.2            Teacher explains the term family relationship.
7.2.3            Students were divided into 7 groups
7.2.4            Each group plays the role of family
7.2.5            Each group introduced the members of his family in front of the class
7.2.6            Teacher presents the video as an evaluation
7.2.7            Teacher gives a written test of the presented video
7.3  End Activities
7.3.1            Teachers provide students with opportunities to ask questions of the material that has been discussed and poorly understood.
7.3.2            Teacher tells the students about the material that will be studied at the next meeting.
7.3.3            Teachers end the lesson with a greeting.
8. Learning Resources
Grow with English Book for 4th Grade
Video about Family
9. Assessment
Oral test written test

ESA (Engaged, Study, Activate)

ESA (Engaged, Study, Activate)

Libatkan, Belajarkan, Aktifkan

ESA adalah metode pembelajaran yang dikembangkan oleh Jeremy Harmer. Dia menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran, ESA diibaratkan seperti sebuah sistem komputer di mana semuanya saling berhubungan.

Tahap Engaged (libatkan) dilakukan untuk memancing siswa berpikir dan berbicara dalam bahasa Inggris, juga sebagai langkah awal menuju ke dalam pembelajaran. Selama fase Engage, guru berusaha untuk membangkitkan minat siswa dan melibatkan emosi mereka. Hal ini bisa dilakukan melalui permainan, penggunaan gambar, rekaman suara, video, cerita, atau anekdot lucu. Tujuannya adalah untuk membangkitkan minat, rasa ingin tahu, dan perhatian siswa.

Pada tahap Study, biasanya sebagian besar pelajaran berfokus pada inti pelajaran. Kegiatan pembelajaran biasanya melalui Lembar Kerja Siswa (LKS).  Sebelum melakukan kegiatan, diawali dengan proses DEGO (Demonstrate, Elicit, and Give Out). DEGO diawali dengan menunjukkan (Demonstrate) materi yang harus dicapai dalam pembelajaran di papan tulis, menggali pengetahuan siswa agar mereka terlibat dalam pelajaran untuk mencegah kebosanan. Pada proses Elicit, guru tidak hanya memberikan informasi kepada siswa, tetapi menggali informasi dengan menggunakan pertanyaan, kalimat rumpang, mencari huruf, dan lain-lain. Ketika siswa dirasa sudah memahami tujuan pembelajaran, baru kemudian memberikan LKS dan memantau pekerjaan siswa. Setelah selesai, masing-masing siswa membacakan jawaban mereka atau menuliskannya di papan tulis.

Pada tahap Activate, dilakukan latihan dan kegiatan yang bertujuan untuk memancing siswa menggunakan bahasa secarai komunikatif sesuai kemampuan masing-masing. Pada tahap ini, siswa tidak difokuskan pada konstruksi bahasa atau pola praktek bahasa tertentu, tetapi menggunakan pengetahuan bahasa mereka dalam melaksanakan tugas. Kegiatan yang dapat dilakukan di antaranya bercerita, menyusun kalimat, bermain peran, menjawab pertanyaan, permainan komunikasi, dan lain-lain.

Harmer menggambarkan variasi yang dapat digunakan dengan model ESA yang dinamai dengan Straight Arrow Approach dengan variasi Boomerang (EASA), yakni pendekatan berbasis tugas. Pada pendekatan Boomerang, setelah fase Engage (E), siswa diberi tugas (A) menggunakan bahasa yang mereka ketahui, baru kemudian dilanjutkan ke tahap Study(S). Tahap Studi dilakukan berdasarkan apa yang guru saksikan dalam kinerja bahasa siswa. Guru singkatnya akan mengisi kekosongan pengetahuan siswa. Untuk memeriksa pembelajaran, siswa kemudian diaktifkan kembali (A).

Sumber:

http://robaaaa.edublogs.org/2011/12/29/esa-method-in-teaching-english/ http://www.teflcorp.com/articles/92-tefl-esa-a-teaching-methodology/277–esa.htm

 

 

Bagian 1****